Fullwaving Yamaha Bebek & Skutik

Modifikasi fullwave pada motor Yamaha bebek & skutik macam Jupiter MX/Z, Vega ZR, Mio, Xeon, Nouvo lebih gampang dibanding motor laen, karena¬†ground spul-nya nggak tertanam pada¬†stator … jadi nggak musti bongkar generator/alternator motor :D

Caranya? Lihat diagram di bawah:

Perhatikan tanda X merah pada gambar, artinya “disconnect” atau dicabut/dilepas

Sebelum bongkar-bongkar, cabut fuse aki atau kabel terminal aki untuk mencegah konslet apabila jalur suplai listrik menyentuh ground secara nggak sengaja.

Lepaskan soket spul … pada soket yang menuju spul, cabut jalur kabel kuning dan hitam. Kabel kuning diisolasi (ini nggak dipakai) dan kabel hitam disambungkan ke kabel tambahan — panjang kabel secukupnya, kira-kira bisa menjangkau posisi regulator. Kalo sudah, pasang kembali soket spulnya. Jadi di soket ini cuma kabel putih yang terhubung ke kabel bodi.

Lanjut … Ganti regulator/kiprok bawaan motor dengan regulator fullwave milik Honda Tiger — bisa jg regulator fullwave lainnya. Perhatikan, ada 5-kaki di regulator Tiger … 1-2-3 di atas dan 4-5 di bawah.

Cabut kabel merah dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #1.

Cabut kabel hitam dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #3.

Cabut kabel putih dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #4.

Sedangkan kabel tambahan yang terhubung ke kabel hitam spul langsung dipasangkan ke regulator Tiger #5.

Masih ada satu kabel lagi di soket kiprok lama, yaitu kabel kuning. Cabut kabel ini, gabungkan dengan kabel cokelat dan pasangkan ke regulator Tiger #2. Kabel cokelat merupakan jalur “+” dari kunci kontak.

Masih kurang jelas??? Baca lagi skema di atas!!! :D

Ganti sein LED malah error?!

Pernah nyoba ganti bohlam sein Honda Beat (atau motor lain) dengan LED tapi nyalanya malah ngawur?? Coba ganti flasher sein bawaan dengan flasher sein elektronik. Flasher ini bisa dibeli di toko-toko onderdil/aksesoris/variasi sepeda motor dengan kisaran harga Rp 5~15 ribu.

Ini contohnya:

Sudah ganti flasher elektronik tapi masih ngawur?
Permasalahannya bisa jadi ada di indikator sein yang ada di speedometer. Indikator ini mengadopsi indikator tunggal, artinya satu indikator untuk sein kiri dan kanan.

Kok bisa error? Itu karena jalur listrik untuk indikator sein memakai metode “sharing plus-minus” … hehehe, nggak tau apa bahasa kerennya … perhati’in skema di bawah:

Skema indikator sein tunggal

Dari skema di atas tampak nggak ada jalur “+” dan “ground” pada indikator sein. Melainkan jalur “+” sein kiri dan jalur “+” sein kanan. Plus ketemu plus kok bisa nyala? Itu karena ada perbedaan potensial antara kedua jalur … saat sein kiri aktif, jalur sein kiri memiliki potensial/voltase lebih tinggi daripada jalur sein kanan … lampu sein kiri dan indikator sein menyala, namun lampu sein kanan tidak menyala. Begitu juga sebaliknya. Tapi begitu bohlam sein kiri dan kanan diganti LED, maka kedua sein (kiri & kanan) akan menyala bersamaan, nggak peduli yang diklik sakelar sein kiri atau kanan. Filamen pada bohlam indikator sein menjadi “jumper” yang menghubungkan jalur “+” sein kiri dengan “+” sein kanan.

Solusinya? Secara sederhana adalah dengan mencabut bohlam indikator sein … dengan begitu nggak ada shortage antara jalur sein kiri dengan sein kanan. Kekurangannya, kita nggak tau apakah sein menyala atau tidak, karena nggak tampak di panel speedometer.

Solusi kedua, lebih baik meski sedikit ribet :-D Yaitu dengan menambahkan diode rectifier (1N4001 atau sejenis) di tiap-tiap jalur indikator sein. Kemudian ujung keduanya, setelah diode, disatukan menjadi jalur “+” murni untuk indikator sein. Sementara jalur lainnya dihubungkan ke ground. Lebih jelasnya lihat skema berikut:

Skema indikator sein tunggal (mod)

Nah, setelah modifikasi tadi lampu sein motor bakal menyala dengan benar, meski menggunakan LED sekalipun :-)

Fullwaving Honda Beat (Part-2)

Part-2: Mengganti Regulator Fullwave & Modifikasi Jalur Kelistrikan

Setelah memodifikasi alternator menjadi fullwave, kini saatnya mengganti regulator (kiprok) bawaan motor dengan regulator fullwave. Di sini saya memakai regulator milik Honda Tiger. Harga regulator ini sekitar Rp 250rb (branded AHM). Atau bisa menggunakan regulator Tiger produk lain (non-AHM) yang hanya berharga Rp 80rb.

Regulator Honda Tiger

Regulator fullwave 1-phase milik Honda Tiger

Regulator Tiger berukuran sedikit lebih lebar dibanding regulator bawaan Honda Beat. Jadi pinter-pinter menentukan lokasi pemasangannya :) Usahakan nggak jauh dari posisi alternator dan aki, biar irit kabel, huehuehue :D

Nah, regulator ini memiliki 5 pin/kaki/terminal … 3 pin di atas (kita urut menjadi pin #1, #2, dan #3) dan 2 pin di bawah (kita urut menjadi pin #4 dan #5). Jangan lupa soket kabel untuk regulatornya … bisa dibeli di toko-toko elektronik atau toko onderdil mobil. Biasanya dikenal dengan sebutan “soket 6-kaki baring”. Atau bilang aja soket kontak mobil.

Nah, sebelum instalasi jalur kabel, jangan lupa cabut fuse 15A atau lepas kabel terminal “+” aki agar nggak terjadi short/konslet secara nggak sengaja.

Oke. Perhatikan lagi kabel-kabel dari stator … Di situ terdapat 3 kabel standard (putih, kuning, dan biru-kuning), plus satu kabel ekstra (cokelat). Kabel kuning nggak digunakan karena sudah dilepas dari soket kabel dan diisolasi, sementara kabel biru-kuning nggak diganggu gugat (ini jalur positif pulser yang mengatur timing pengapian di CDI). Kabel putih masih duduk manis di soket stator. Jadi sisa kabel ektra (cokelat yang belum terpasang) … inget, kabel ekstra ini sama seperti kabel putih, yaitu sebagai jalur pengisian (charging).

Nah, di soket regulator lama ada 4 kabel terpasang, yaitu: jalur positif aki (kabel merah), jalur ground (kabel hijau), jalur pengisian (kabel putih), dan jalur lampu (kabel kuning).

Dari soket lama tadi, pindahkan kabel merah ke pin #1 regulator Tiger. Lanjut, pindahkan kabel hijau ke pin #3 regulator Tiger. Lanjut lagi, pindahkan kabel putih ke pin #4 regulator Tiger.

Untuk kabel kuning, gabungkan dengan jalur output kunci kontak (kabel hitam, bisa diambil dari fuse 10A) dan pindahkan ke pin #2 regulator Tiger. Pin #2 merupakan jalur “voltase referensi”. Di sini kita bakal memonitor tegangan aki melalui jalur “+” output kunci kontak — kunci kontak terhubung dengan jalur positif aki melewati fuse 10A. Jadi fungsi monitoring aktif jika kontak pada posisi ON.

Sementara jalur lampu (lampu utama & lampu senja) mengambil suplai listrik dari aki melalui jalur output kunci kontak. Itulah kenapa kabel kuning tadi kita jumper dengan kabel hitam dari output kunci kontak. Dengan begitu lampu hanya bisa dinyalakan jika kunci kontak pada posisi ON.

Nah, sisa satu pin lagi … Inget kabel ekstra dari stator? Sekarang pasang kabel ini LANSUNG ke pin #5 regulator Tiger (boleh bolak-balik dengan kabel putih, pin #4). Maksudnya “LANGSUNG”, jalur ini nggak boleh numpang ke jalur lain … jadi dari spul langsung ke regulator. Itulah kenapa saya minta gunakan kabel ekstra yang rada panjang :)

Skema pemasangan secara lengkap bisa dilihat di bawah:

Skema fullwaving Honda Beat

Sudah terpasang semua? Sekarang coba hidupkan mesin motornya … Fuse aki (15A) dan/atau kabel terminal aki jangan dipasang dulu. Kemudian nyalakan mesin motor dengan starter kaki (engkol). Bisa menyala? Ok, matikan! Berarti modifikasi alternator dan regulator fullwave berfungsi dengan baik.

Sekarang pasang kembali fuse 15A dan/atau kabel terminal aki yang dilepas tadi. Kemudian ON-kan kunci kontak dan nyalakan lampu utama. Jika menyala, berarti jalur lampu terpasang dengan baik. Ok, matikan lampunya :D

Lanjut, ukur voltase di terminal aki menggunakan multimeter. Perhatikan angka di multimeter … itu menunjukkan nilai voltase aki (biasanya kisaran 12.3~12.8V). Kemudian nyalakan kunci kontak dan mesin (boleh pake starter elektrik, boleh pake starter engkol). Lihat lagi angka di multimeter. Nilainya harus lebih tinggi dari 12V … kisaran 13~15V, pertanda output regulator mengambil alih suplai listrik.

Kemudian nyalakan lampu utama … biasanya voltase bakal turun mencapai 12V atau kurang dikit … ini normal. Lanjut putar gas sedikit (kira-kira setara dengan berjalan pada kecepatan 30~40 km/jam). Nilai voltase bakal naik hingga maksimal 14.5~15.6V … artinya ada suplai dari output regulator. Nilai ini nggak boleh >16V (baik kondisi tanpa beban maupun beban penuh) karena beresiko “menyiksa” aki dan komponen elektrik lainnya, termasuk CDI! Jika output regulator >16V, periksa jalur voltase referensi terpasang dengan baik … atau … dengan terpaksa ganti regulator :) Dan pada kondisi beban penuh, voltase juga nggak boleh kurang dari 12.8V. Kurang dari itu, aki bakal tekor karena tidak terisi (charge) dengan baik.

Selesai! :)

Fullwaving Honda Beat (Part-1)

Part-1: Modifikasi Alternator Fullwave

Modifikasi kelistrikan fullwave pada Honda Beat gampang-gampang susah. Gampang sebenarnya sih, tapi susah jika nggak punya peralatan yang memadai untuk bongkar pasang. Sistem kelistrikan fullwave mengharuskan untuk memisah ground AC dan ground DC, dan mem-floating ground AC. Sementara ground AC sendiri diletakkan di bodi stator. Stator sendiri berada di balik flywheel magnet. Jadi mau nggak mau harus bongkar stator dulu :-D

Alternator Honda Beat terletak di sebelah kanan, di sisi knalpot … tepatnya di balik kipas pendingin mesin.

Setelah membuka cover kipas dan kipasnya, lanjutkan dengan membongkar flywheel magnet. Untuk yang satu ini musti punya alat khusus, yaitu flywheel puller atau dikenal sebagai treker magnet.

Selanjutnya tinggal membongkar stator …

Posisi ground stator di kawat tembaga yang tersolder di tab yang ada kabel hijaunya …

Nah, lepaskan kawat tersebut dari tab ground … bisa pake solder, bisa dipotong :-D Sementara kabel hijau biarin aja … itu adalah jalur ground untuk pulser.

Kemudian tambahkan kabel ektra … usahakan agak panjang (di sini saya pakai kabel warna cokelat), ukuran paling tidak sama dengan kabel spul, dan yang penting tahan panas :-)

Sambungkan ujung kabel ekstra ini dengan ujung kawat yang telah dicabut tadi … Jangan lupa tutup/isolasi sambungan tersebut dengan heat-shrink atau selang bakar agar tidak konslet dengan yang lainnya.

Rapikan kembali supaya nggak tersambar flywheel magnet yang bakal berputar kencang …

Sekarang perhatikan soket kabel yang menuju stator … di situ ada 3 jalur kabel: putih (spul pengisian/charging), kuning (spul lampu), dan biru-kuning (jalur pulser, untuk sinyal timing pengapian). Spul lampu nggak digunakan lagi, jadi lepaskan kabel kuning dari soket kabel tadi, lalu isolasi agar nggak konslet ke mana-mana.

Jika sudah, pasang kembali stator ke tempatnya semula.

Sekarang kita lakukan tes sedikit tuk meyakinkan modifikasi sudah benar atau belum :D
Ambil multimeter (saya pakai yang digital), set ke range “continuity” … multimeter bakal berbunyi beep kalau kedua probe/tester merah & hitam saling disentuhkan. Artinya, ada kontinyuitas (hubungan) antara titik-titik yang di ukur.

Mode "Continuity" pada multimeter

Dari soket stator, pasang masing-masing probe multimeter pada jalur kabel putih dan kabel ekstra. Multimeter HARUS berbunyi. Jika tidak, pertanda ada salah satu jalur yang putus, atau kemungkinan terburuk, kawat spul yang putus!

Lanjut antara kabel putih dan ground … multimeter harus TIDAK berbunyi. Begitu juga antara kabel ekstra dengan ground/rangka. Jika berbunyi, kawat spul masih terhubung dengan ground, berarti modifikasi fullwave belum berhasil.

Nah, setelah lulus uji, stator tersebut siap menjadi stator fullwave — alias, nggak ada sedikit pun kawat kumparan yang terhubung dengan ground/rangka …

Langkah berikutnya adalah instalasi regulator fullwave

Bikin Modul Sein-Senja-Hazzard v4

Rangkaian/modul ini untuk memodifikasi lampu sein Honda Beat supaya bisa berfungsi pula sebagai lampu senja dan hazard … bisa juga diaplikasikan ke motor lain :)

Skema diadopsi dari skema “Sein+Senja Yamaha Mio” dari gajah_gendut@kaskus.us … Thx to him ;-)

Perbaikan dari versi sebelumnya:

  1. Fungsi hazard tetap aktif meski sein dinyalakan — FIXED!
  2. Dimensi relay di PCB — FIXED!

Skema modul sein+senja+hazard v4

Keterangan:

+L INDIKATOR = indikator sein kiri (di panel speedometer)
+R INDIKATOR – indikator sein kanan (di panel speedometer)
FL_SEIN = sein depan kiri
FR_SEIN = sein depan kanan
RL_SEIN = sein belakang kiri
RR_SEIN = sein belakang kanan
FLS = flasher (bawaan motor)
SW1 = sakelar sein (bawaan motor)
SW2 = sakelar hazard (tambahan)
+12V SENJA = suplai 12VDC dari jalur lampu senja
+12V KONTAK = suplai 12VDC dari jalur output kunci kontak

Komponen:
D1~D2 = Diode rectifier 1A tipe 1N4002
D3~D8 = Diode rectifier 1A tipe 1N4002 *sesuaikan ampere total beban*
Relay 1~4 = Relay 8-pin DPDT *sesuaikan ampere total beban*
R1~R4 = Resistor 100 ohm 1/4W
SW2 = Sakelar ON-OFF

Relay DPDT 8-pin

Prioritas fungsi: Sein > Hazard > Senja
Artinya, pada saat sein diaktifkan, hazard/senja (mana yang menyala) akan OFF secara otomatis. Dan berfungsi kembali ketika sein dimatikan. Dan fungsi lampu senja akan OFF secara otomatis ketika hazard dinyalakan.

Diode D7 & D8 untuk memblok arus menuju sein bagian belakang … jadi, fungsi lampu senja hanya menyalakan sein bagian depan. Kalo ingin lampu senjanya nyala depan & belakang, nggak usah pakai diode D7 & D8.

Perhatikan!
Untuk diode D3~D8 dan RELAY1~RELAY4 sesuaikan dengan total arus beban “lampu sein + indikator sein”. Misal, jika 4 butir lampu sein + indikator sein memakan arus total 4 ampere, gunakan komponen dengan spek yang lebih tinggi dari 4A.

Ini contoh layout PCB-nya:

Layout PCB modul sein+senja+hazard v4

Pengkabelan (wiring) modul:

Input/output modul sein+senja+hazard v4

Instalasi modul (contoh pada wiring Honda Beat/Vario):

Instalasi modul “Sein-Senja-Hazard v4″

Demo di BumbleBEAT :D

Stator motor — Apa itu?

Stator 1-phase

stator

Kalo diartikan secara sederhana, stator merupakan bagian dari alternator yang bersifat stasioner / statis, alias nggak bergerak. Untuk mengetahui prinsip kerja stator, yuk kita pelajari dasar cara kerja sistem kelistrikan pada sepeda motor.

Sistem kelistrikan pada sepeda motor adalah bagaimana menghasilkan, menyimpan, dan mengkonsumsi listrik. Alternator atau generator atau magnetos menghasilkan tenaga listrik AC (alternating current, atau listrik bolak-balik). Arus AC ini dapat digunakan untuk menyalakan headlamp, lampu senja, lampu speedometer, dan juga sistem pengapian.

Setiap sepeda motor yang memiliki starter elektrik umumnya dilengkapi pula dengan aki atau batere sebagai penyuplai tenaga listriknya. Sayangnya aki nggak bisa menyimpan listrik AC — untuk itu listrik ini musti diubah dahulu menjadi DC (direct current, atau listrik searah) agar bisa disimpan di dalam aki. Nah, komponen pada motor yang bertugas mengubah arus AC menjadi DC adalah rectifier/regulatorRectifier berfungsi mengubah arus AC menjadi DC, sedangkan regulator berfungsi membatasi level tegangan listrik (voltase) yang disuplai ke batere/aki 12V agar tetap di kisaran 13.8~14.5V. Selebihnya, bakal dilepas dalam bentuk energi panas — ingat, dalam ketentuan fisika, energi tidak bisa dihilangkan/dikurangi/ditambahkan, tapi bisa diubah ke bentuk lain. Kalo dicermati, tugas rectifier/regulator ini sebenarnya sama seperti adaptor AC-DC yang umum kita pakai sehari-hari, misalkan charger hape atau laptop.

Nah, dalam siklus menghasilkan-menyimpan-mengkonsumsi kelistrikan sepeda motor, ketentuan ekonomi juga berlaku di sini, di mana “pendapatan” > “pengeluaran” supaya nggak bangkrut alias tekor :-D artinya, stator harus mampu menghasilkan listrik lebih besar daripada yang dikonsumsi beban keseluruhan — seperti lampu, klakson, dll — agar aki bisa tetap terisi (charge) … Jika sebaliknya, maka bisa dipastikan aki bakal tekor. Ini biasa terjadi kalo tegangan listrik (voltase) aki turun di bawah 12.4V. Jadi kalo mau pasang aksesoris listrik juga musti perhitungan. Nggak asal nemplok, nyala, tapi ujung2nya aki tekor :-D

Lanjut …

Alternator merupakan komponen pembangkit listrik pada sepeda motor. Fungsinya adalah mengubah energi gerak (kinetik) menjadi energi listrik. Alternator terdiri dari dua bagian, yaitu 1) stator dan 2) rotor magnet atau flywheel magnet.

Stator berupa inti (core) besi yang terbentuk atas lapisan plat-plat tipis dengan sejumlah pole yang tersusun melingkar, seperti jari-jari pada roda pedati (kereta kayu yang ditarik oleh sapi atau kuda). Seutas kawat tembaga dililitkan sebanyak sekian lilitan/putaran di tiap-tiap pole. Ada pula stator yang terdiri dari tiga kumparan kawat tembaga untuk menghasilkan tiga arus listrik AC, disebut stator 3-phase. Stator ini bisa dikenali dari tiga kabel berwarna kuning atau putih sebagai jalur output AC.

Stator bisa memiliki berbagai desain … bisa terdiri dari satu hingga beberapa pole … bisa terdiri dari satu atau lebih kawat tembaga, tergantung spesifikasi output yang diinginkan. Tapi pada dasarnya semua stator memiliki prinsip kerja yang sama.

Flywheel magnet berupa “mangkok” bermagnet yang terdiri dari sepasang magnet — kutub S (South, Selatan) dan kutub N (North, Utara) — yang bergerak memutari stator. Jika magnet ini bergerak melewati kumparan pada stator akan menghasilkan energi listrik. Besarnya energi listrik ini tergantung dari jumlah lilitan kawat, diameter kawat, kekuatan magnet, juga kecepatan putaran magnet.

Beberapa sepeda motor ada yang memiliki dua stator, salah satunya biasanya digunakan untuk sistem pengapian. Biasanya motor dengan sistem pengapian AC menganut metode ini.

Ada juga stator yang dilengkapi dengan pulser — biasanya diletakkan di sisi luar flywheel magnet. Pulser bertugas untuk mengirim “pulsa” atau “denyut” listrik ke CDI sesuai sudut crank melalui satu atau beberapa benjolan (reluctor) yang menempel di sisi luar flywheel magnet. Fungsi utama pulser adalah menentukan timing pengapian. CDI kemudian akan mengalirkan arus listrik ke koil pengapian (ignition coil) sesuai timing pengapian. Di dalam koil pengapian ini tegangan listrik akan dilipat-gandakan hingga lebih dari 10 ribu volt, yang selanjutkan dialirkan ke busi.